Indonesia: On Being Further but Seeing Better

20160821_141842 copy

Happy Independence Day, Indonesia!

It’s been two years, I haven’t been able to set my foot on this land. I miss it so much. I don’t know if it’s just me but after being in a great distant with the land about which I used to complain all the time, I feel like I am more in love with it. I am further from Indonesia, yet I see it better and fall in love deeper. I am able to see it clearer when I see it from the other part of the globe then I know I simply fancy my low-key Indonesia.

It’s not that I dislike this sensation-and-enjoyment filled land of Uncle Sam. I won’t ever tell you that it’s unpleasant to live here. Yet, at the end, if I ever to choose when to live the rest of my life in, you know my answer: Indonesia. I am not about to point out that America this and Indonesia that. I am not trying to see the difference really. As opposed to that, my preference towards Indonesia comes from the epiphany that both land are pretty much the same.

Say what? How about a better traffic? How about a huge amount of commodities? How about an easier access to almost everything? That is true. But! The problems for people who live here are also complex. Hey! There are criminals, poverty, sexual harassment, and threat to diversity too over here. Mind you I said too meaning we have it there in Indonesia as well. Again, I cannot compare it apple to apple simply because each of them has a different root for sure then of course grow different variety of fruit eventually. Like different individuals who has their own characters and.. well, problems.

Soooo…Living in this foreign land, I am giving up being that person who thinks that the grass is always greener on the other side. Like, maybe it’s the sun ray? Maybe it’s our eyes? Because after hanging out on that other side, I finally come to realize that uhm my grass is not bad at all. I have a good grass y’all.

I am thankful of being given an opportunity to live in the foreign land. It’s because for the narrow person like me, it takes a different visibility point to be grateful of your starting point, the point where everything’s begun. Therefore, if that land is where one’s started, that’s also where one’s end.

Lawrence, in a new messy apartment with Gentra playing game beside me.

18 Agustus 2018

 

Sincerely,

Resa, the one who loves Indonesia deeper.

 

 

Advertisements

Indonesia: Tentang Bagaimana Jauh Darinya tapi Melihatnya Lebih Nyata

20160821_141842 copy

Dirgahayu Republik Indonesia!

Tanah yang udah dua taun gak saya pijak buminya. Kangen. Entah karena kangen kangen manja atau emang itu faktanya, setelah jauh dari tanah yang dulu gak pernah saya berhenti seneweni ini, saya makin ngerasa cinta karena justru dengan punya jarak dengannya, saya bisa lihat dia lebih nyata. Dengan punya jarak darinya, saya melihat Indonesia dari titik berbeda. Saya melihat Indonesia lebih jelas justru dari belahan dunia berbeda dan lalu merasa bahwa saya suka Indonesia saya yang bersahaja saja.

Ini bukan berarti saya tidak menikmati negeri paman Sam yang penuh sensasi dan kenikmatan yang aduhai ini lho. Saya gak akan pernah bilang kalau tinggal di Amerika itu gak enak. Tapi ujungnya, kalau saya disuruh milih di mana saya harus menghabiskan kebanyakan jatah hidup saya yang entah sebanyak apa, saya pilih Indonesia. Saya gak mau kemudian bikin poin- poin yang membandingkan kalo di Amerika A, kalau di Indonesia B jadi B lebih bagus dan pernyataan sejenisnya. Saya bukan mau melihat perbedaan antar dua tanah di mana saya habiskan waktu saya. Sebaliknya, kecenderungan saya untuk kemudian memilih Indonesia justru hadir saat saya sadar bahwa tanah Amerika ini sama saja dengan Indonesia!

Sama apanya? Kan jalanan lebih teratur? Kan komoditi lebih beragam? Kan mau ini itu lebih gampang? Betul. Tapi, masalah yang orang- orang sini hadapi juga pelik ternyata. Dari mulai kriminalitas, kemisikinan, kejahatan seksual, dan ancaman terhadap keberagaman itu ada juga semua di sini. Ini yang kemudian bikin saya mikir, oh kita mah sama aja. Coba baca lagi, saya bilang sama aja yang artinya saya gak bilang bahwa di Indonesia permasalahan itu gak ada. Pun saya gak berusaha bilang kalau tanah satu lebih baik atau lebih parah dalam suatu halnya. Amerika dan Indonesia itu kaya dua individu terpisah yang masing- masing punya karakter dan kesusahannya sendiri.

Nah, hidup di dua tanah berbeda juga bikin saya sekarang tobat untuk mikir bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau warnanya sementara rumput kita mah kusem terus keliatannya. Mungkin itu efek cahaya, mungkin efek mata kita yang siwer juga. Karena setelah numpang maen di rumah tetangga terus lirik rumput punya kita, ternyata eh ternyata, rumput kita kalo dari jauh keliatannya bagus juga.

Saya bersyukur bahwa saya diberi kesempatan numpang hidup di tanah orang. Karena untuk orang cemen macam saya, ternyata butuh jarak pandang yang berbeda untuk bisa mensyukuri titik di mana kita bermula. Maka, jika tanah itu mula saya, di sanalah saya bermuara.

Kamar tidur Lawrence tanpa disertai Gentra yang sedang dihibur ayahnya,

18 Agustus 2018

 

Tertanda,

Resa yang makin cinta Indonesia.

 

 

Gentra, Ibu Mau Bicara..

Untuk Gentradanu Ilmal Kautsar,

 

Gentra, Ibu mau bicara- lewat kata yang bisa ibu sisipkan di awan awan digital yang nantinya bisa kamu ambil pada saatnya. Ibu mau cerita. Masa ibu berkata, kamu sedang tidur seperti biasa. Ini jam 11 malam. Ibu tahu kamu akan bangun beberapa jam lagi, menangis dan minta dikeloni. Jadi sebaiknya ibu cepat bereskan kata kata ini untuk diri kamu yang besar nanti.

Gentra, Ibu mau bicara tentang bagaimana Gentra memberikan Ibu keberanian hanya dari suara.  Ibu dulu sangat penakut. Ibu takut jarum suntik, ibu takut luka, ibu takut orang asing, ibu takut pojok gelap di suatu tempat, ibu takut sakit hati atau dilukai. Untuk bisa punya kamu, ibu berpikir panjang waktu karena ibu harus hadapi semua itu. Menyimpan manusia di dalam rahim itu bukan perkara yang dianggap mudah. Intinya, semua ketakutan yang ibu punya akan ibu alami jika ibu ingin punya Gentra. Ibu ingin Gentra tapi Ibu takut engga mampu. Tapi ada suara berani yang akhirnya bilang bahwa Ibu mampu. Dan suara itu kamu, Gentradanu. Gentra, suara; danu, pemberani. Kamu suara cinta yang ibu rasakan jauh sebelum diri kamu lihat dunia. Kamu suara yang bilang bahwa ibu harus berani pada semua. Gentra, Ibu mau bicara tentang bagaimana Gentra mengajarkan Ibu tentang dunia dan ilmu menikmatinya. Gentra guru terdahsyat yang pernah ada di hari hari seorang siswa. Gentra ajarin ibu gimana caranya nerima. Ibu dulu orangnya pengen segala sempurna dan sesuai rencana. Ibu akan emosi kalau hasrat ibu gak terpenuhi. Sekarang, ada kamu, ibu tahu kalau sempurna bukan cuma dicapai sama hal yang terencana. Kamu ajarin ibu nikmatin setiap detik tanpa upaya. Kamu ajarin ibu rehat sejenak dari dunia. Kamu teman santai ibu, sumber dan pengobat suka duka. Untuk hidup dengan damai, kamulah ilmunya, Ilmal.

Gentra, Ibu mau bicara tentang bagaimana Gentra melimpahkan Ibu segala cinta. Gentra sudah melimpahkan cinta terbesar yang pernah ibu rasakan sesama manusia. Meski gak semua cerita ibu dan kamu bertabur bunga, tapi setiap jalin kisah kita dipenuhi cinta. Hanya dengan ada, kamu buat ibu bahagia. Entah kamu secinta apa, tapi ibu akan terima karena dengan kamu begini saja, cinta ini meruah. Kautsar, berkelimpahan itu kata yang tepat untuk gambarkan bagaimana cinta yang ibu rasakan tiap ibu buka mata dan lihat kamu senyum atau nangis manja. Kamu cinta berkelimpahan ibu dari sebelum kala.

Gentra, ibu mau bicara tentang bagaimana dua tahun ini begitu memesona tapi ibu sudah kehabisan puja. Ibu sayang kamu. Bertumbuhlah seluruhmu, doa ibu buat kamu.

 

Sayang Ibu,

Lawrence, 20 Juli 2018

#ThreeforTwo On Seeing Gentra for the First Time

91351aab-c29d-4123-8c53-74cfd8b5ed0e

Since this laid-back mom is not as laid back anymore thus has not written any in a long time, let me take a break to celebrate my son upcoming birthday in the most me way possible: writing. Gentra is turning two in couple of days. We won’t make a party like his first birthday. For his second, we’re planning to enjoy it by ourselves–just the three of us. #ThreeforTwo, three of us for two years. Days when I needed to wait hours for my son to hit the bed while husband is away feel like years. Yet, the days when I saw him play alone got me thinking like why years flew so fast? That is why I want to feel nostalgic about a day when I saw Gentra for the very first time. I want to rumble on seeing Gentra for the very first time and living our lives as three. It won’t be short so be ready.

On my way to the hospital from my dream midwife clinic Bumi Ambu, I laughed and laughed. I’d given up my hope to have vaginal labour. I’ve surrender my stomach to be cut in half. In the emergency room, all checked, my doctor called and the nurse handed us the letter of consent of my procedure. As a person who scared of needles my whole life, I had this indescribable peace of mind as of what to come(you know, lots of needles ahead). Come to think of it, I really do not have any idea how that was even possible, especially my fear of needle just came back once I was done with my labour. Boo. I even got a time and cool to take selfie with my grandma, uncle, aunt, and my husband just before going inside the operation room.

Inside the room, another miracle happened. People who had had caesarian told me that the procedure of the needle going to your bone marrow was unbelievably painful. I, as the person who ever ran away from vaccination procedure and got all my teachers captured me,was extremely worried but there’s no way back. I was trying to chill and listen to the doctor’s instructions. She even explained that the needle going to hurt a lot, like level 3 hurt. She gave my a pillow to hold and bite. She told me to sit down and bend a bit. I felt cold needle on the top of my skin. One, two, three seconds. It just felt cold and I started to wonder when the doctor would pierce the needle. But guess what? She said it’s done. I was like..excuse me? I was confused and overjoyed. I.did.not.feel.a.thing. Alhamdulillah. Praise the Lord. I was shivered uncontrolably when I need to get the needle under my skin due to the lack of liquid in my body–which were supposed to be level 1 hurt. Yet, I repeat…I did not feel a thing for my caesarian shot. This was com from the Almighty.

Afterwards, my doctor asked me about things and the second I remember, I felt like having in an alien abduction movie where I heard voices in the distant and when I opened my eyes, everything was shadowy, my body felt like levitating. Once I had myself together, there was this bulk of pain suddenly hit every inch of my body. Instant pain..as in not gradual. My husband held my hand and I heard my doctor congratulate me. I remember my firs phrase was “sakit banget–it hurts so bad”. From then on, my family members came in turn. Everytime I got someone hand, I thought I almost crushed them due to the pain I would like them to feel.

They took me to my room. I did not feel sleepy at all. I just want to see my son since I was not conscious when I had the procedure. Hours passed and a nurse finally hand me my baby for me to kiss–I was unable to move freely. Right at that moment, I knew where all of sources and miracles came from. It was the Almighty in a form of my baby, Gentra.

We spent that night together for the very first time. Alone. Three of us. For some reason, none of our family was present which was weird considering our culture of accompanying mom right after the birth. Thinking about it right now, I feel upset about it. However, at that very moment, I was cool with it. I spent the rest of my night and dawn looking at my baby through the glass and listening to my husband snore from the end of the bed.

It was not easy to tell the feeling once I saw Gentra and realized that us meant three–not two. First thing was that I did not cry, as I imagined I would be or as portrayed by many mommy moment. I don’t think I am not the happy-cry type of person in the first place. I did not think shedding tears were suitable for the vibe I was having once Gentra was around. Even when I am writing these post, I am trying so so hard to capture my real feeling at that time. My mind is just full of white clouds and sleeping Gentra. That’s it. That very moment was very simple yet complex at the same time. This is one of those moment when any word seems to be understatement and just hope that I was rich enough to hire the whole reality show crew to capture the moment real time.

Sekarang hampir dua tahun kita bertiga. Dari detik saya lihat Gentra pertama sampai sekarang saya udah dua tahun bersama, rasa yang saya dapat rupa- rupa. Gak selalu bahagia. Gak pernah sama. Namun saya tahu pasti bahwa setiap rasanya dinaungi cinta.

It’s almost two years now, we’re being three. Since the first time I saw Gentra till now I’ve spending two years of my and his life together, I felt thousands. Not always happy. Never the same every time. Yet, I know that each and every feeling I have for him, for us, is rooted from love.

#Duatahunbertiga Rasa Melihat Gentra yang Pertama

91351aab-c29d-4123-8c53-74cfd8b5ed0e

Berhubung si ibu santai ini udah gak sesantai biasanya jadi udah lama gak nulis, momen jelang ulang tahun Gentra akhirnya diusahain buat nulis lagi. Gentra mau dua tahun beberapa hari lagi. Kita gak akan bikin acara kaya waktu ultah dia yang pertama. Untuk ultah kedua ini pengen dinikmatin ama kita bertiga aja. #Duatahunbertiga rasanya bentar bentar lama. Kalo lagi nungguin Gentra yang belum bisa tidur aja dan suami lagi gak ada, sejam rasa lama. Tapi kalau lagi liat Gentra lagi main sendiri jadi heran anak ini kapan tumbuhnya tau tau udah dua tahun aja. Hehehe. Jadi akhirnya memutuskan nostalgia ke hari- hari awal ketemu Gentra. Saya pengen nyeracau gimana rasa melihat Gentra yang pertama dan jalanin hidup bertiga. Siap- siap ya, ini panjang banget kicauannya.

Di perjalanan menuju rumah sakit dari Bumi Ambu, klinik persalinan dengan bidan yang saya idamkan, saya udah ketawa tawa aja. Udah pasrah tampaknya belum berjodoh dengan lahiran per vaginam. Udah sumerah kalau perut saya harus dibelek. Sampai di UGD, cek ini itu, telp dokter Obgyn saya, terus langsung disodorin pernyataan operasi. Saya yang takut sama jarum suntik setengah mati, pas di ruang persiapan operasi dikasih rasa damai luar biasa. Rasa yang sampai sekarang saya masih heran datang dari mana. Karena pasca lahiran, takut saya sama jarum balik lagi. Pokonya udah kaya angin aja si suster bilang “bu sekarang tes untuk alergi ya..” jos, “bu sekarang saya ambil darah untuk ini ya..” joss. Yo wiss. Masuk ruang operasi masih sempet selfie juga ama nenek, om, tante, dan suami.

Masuk ruang operasi, keajaiban lain pun terjadi. Konon menurut cerita orang yang lahiran via caesarian, suntikan di tulang sum sum untuk biusnya itu sakit luar biasa. Saya yang jaman SD kabur pas disuntik vaksin sebenernya khawatir tapi ya masa saya mau kabur kaya jaman dulu. Berusaha benerin napas dan ikutin instruksi dokternya. Dokternya udah ngewanti- wanti juga ini level 3 katanya. Sakit dimasukin infusan tuh level satu, sakit dimasukin jarum tes alergi itu level 2, dan suntikan di tulang sum sum ini no 3. Sampai di dokternya ngasih bantal buat nahan sakit dan benerin posisi. Posisi untuk disuntik tuh duduk agak bungkuk karna posisi yang mau disuntik pas di tulang belakang di atas pinggang. Terus saya rasain si jarumnya kayanya nempel di kulit karena kerasa dinginnya. Beberapa lama itu jarum kerasa dingin gitu aja. Saya mikir ko ya lama amat gak mulai mulai disuntiknya. Eh taunya si dokter bilang udah selesai. Saya melongo. Lah begitu doang? Itu asli ga kerasa sama sekali. Mukjizat. Alhamdulillah. Padahal saya waktu di infus meringis- ringis pasrah. Ini yang banyak orang rasain sakit sayanya gak kerasa apa- apa. Ini kekuatan sang Maha.

Ngobrol- ngobrol ama si dokternya terus tiba- tiba yang pertama kerasa macem adegan di film yang orang- orang lagi ngomong deket tapi kerasa jauh cuman kasak kusuk doang. Coba buka mata berat dan semua berbayang. Badan rasanya ngambang. Begitu berhasil buka mata dan napak di bumi lagi badannya, rasa sakit yang gak pernah saya rasain sebelumnya langsung blek saya rasain. Sakitnya gak gradual tapi instan. Ini sekaligus seperesekian detik semuanya kerasa. Suami lagi megang tangan saya dan saya samar denger dokternya bilang selamat. Kata yang pertama saya ucapin waktu itu adalah “sakit banget”–kalo gak salah. Saya ingetnya megangin tangan suami kenceng banget karena sakitnya gak ketahan. Dari sana keluarga gantian nengokin dan saya gantian pegangin tangan mereka untuk saya remes karena nahan sakit.

Dibawalah saya ke ruangan. Saya inget saya gak ngantuk sama sekali. Saya cuman pengen lihat anak saya. Berhubung saya bius lokal plus bius tidur(karena biusannya gak cukup kalau saya sadar, masih kerasa nyelekit pas mau mulai digunting), saya gak bisa langsung dapet anak saya pasca dikeluarin dari rahimnya. Setelah nunggu beberapa jam, saya lihat anak saya untuk yang pertama. Sekarang saya tahu darimana semua energi damai dan keajaiban itu datangnya. Energi dari Allah itu namanya Gentra.

Rumah sakit yang kami pilih nyediain rawat gabung. Dulu saya sih gak survey macam- macam tapi setelah tahu bahwa rumah sakit lain banyak yang gak bolehin rawat gabung, saya bersyukur banget. Memang alasannya dimengerti ko. Kalau rawat pisah, ibu dan ayah atau keluarga lain bisa istirahat dan anak ada yang rawat. Buat saya sendiri, mungkin susah banget rasanya bayangin malam- malam pertama anak saya udah keluar susah payah tapi tidur dipisah. Alhamdulillah. Malam itu kita jalanin bertiga. Entah karena apa,gak ada satu pun dari keluarga kita yang digerakan hatinya untuk nemenin di malam pertama. Padahal dari semua keluarga saya atau suami, logikanya setiap yang lahiran atau dirawat pasti ada satu keluarga yang ikutan jaga. Kalau dipikir- pikir harusnya dulu sedih banget gak sih? Gak ada satu pun yang bantuin jaga. Anehnya, saya sama suami biasa aja. Kayanya kita terlalu terpesona sama adanya Gentra. Malem itu Gentra belum mulai minum ASI juga. Saya belum bisa duduk juga. Akhirnya saya ngabisin dini hari liatin anak saya di tabung kaca, dan dengerin ngorok suami di ujung ranjang.

Susah banget buat bilang rasa apa yang ada waktu saya lihat Gentra dan sadar bahwa keluarga kita udah ada tiga. Pertama, saya gak nangis seperti bayangan saya awalnya atau banyak ibu lainnya. Emang saya bukan tipe orang yang punya nangis bahagia. Nangis lebih identik sama nelangsa jadi rasanya saat itu nangis bukan efek yang cocok buat kehadiran Gentra–untuk saya. Ditambah lagi sebenernya diri ini juga coba nerka perasaan apa yang lagi nyelimutin hati dan pikirannya. Di saat saya ngetik tulisan ini, saya beneran coba balik lagi dan nginget- nginget gimana perasaan saya sebenernya. Yang ada di ingatan saya cuma awan- awan putih, dan Gentra yang lagi tidur. Itu aja. Momen itu terlalu sederhana dan kompleks di saat yang sama. Ini salah satu momen yang bikin saya hilang kata dan berharap waktu itu saya kaya waya dan bisa nyewa satu kru reality show untuk bisa rekam semua kejadian itu secara nyata.

Sekarang hampir dua tahun kita bertiga. Dari detik saya lihat Gentra pertama sampai sekarang saya udah dua tahun bersama, rasa yang saya dapat rupa- rupa. Gak selalu bahagia. Gak pernah sama. Namun saya tahu pasti bahwa setiap rasanya dinaungi cinta.

Kelas Kuliner H5, H6, dan Ujian: Saya Lulus!!!

 

IMG_9229Kelas kuliner saya selesai dan saya lulus tes! Tuhan punya cara sendiri buat nunjukin kasih sayangnya. Entah gimana lulusan Sastra Inggris, mantan guru, sekarang malah terdampar di kelas kuliner di Amerika. Dan anehnya lagi, semuanya saling terjalin dan ngebantu satu dan lainnya. The world even makes  more sense after all of these experiences. Macem semua benang kehidupan tuh udah tahu harus dirajut seberapa panjang dan di sebelah mana biar baju kehidupan kita bisa kita pake dengan nyaman. Tsah. Setelah suami sudi berkorban(dan sama sekali enggak mudah) untuk ngurus Gentra selama siang dan belajar ampe tengah malem dan sempet bolos satu kelas demi istrinya yang pingin ikut beginian, Tuhan ngasih kemudahan dengan banyak cara kaya misalnya ternyata kelasnya selesai lebih cepet satu sampai satu setengah jam dari jadwal(karena peserta yang cuma berdua dari yang biasanya 4-6 orang), terus dari yang harusnya 8 hari jadi cuman 6 hari. Pokonya Tuhan luar biasa!

Kelas kuliner ke 6 dan ke 7 agenda awalnya adalah kuliah teori dasar penyajian makanan. Pas hari Senin siap untuk kuliah yang dijadwalin bakal 6 jam selama dua hari, Chef ngasih tahu kalau peserta temen saya itu ternyata udah ngambil sertifikasinya jadilah hari itu kami cuma foto bareng sambil ngasiin sertifikat plus ngasih buku teori untuk saya belajar mandiri. Chef minta saya kasih tahu mereka kapan saya siap buat review bareng dia dan ambil tes-nya. Pas saya coba baca bukunya, akhirnya saya mutusin buat nyelsein semua secepatnya dan nyanggupin untuk review besok siang dan sorenya langsung tes.

Setelah lamaa banget ga belajar untuk ngadepin tes(karena banyaknya belajar buat nyiapin tes anak- anak), saya berasa ketemu temen lama yang saya kangenin. Berkutat sama buku paket, kertas catetan, sama pulpen warna- warni rasanya bikin sumringah aja-persis rasanya pas meluk sahabat yang udah lama gak tatap muka. Saya belajar hari itu dan pagi-paginya. Untungnya saya udah praktik di lab dapur jadinya banyak teori yang udah lumayan nempel karena Chef nya ingetin berulang- ulang pas di dapur kaya misal sanitasi sama aturan- aturan berkenaan sama gimana ngejaga keamanan makanan dan resiko dibalik perilaku salah di dapur.

Hari berikutnya, 10 bab udah saya baca dan latihannya udah saya kerjain. Sebagian udah ngerti, sebagian lagi susah diinget kaya misal nama- nama bakteri, virus, sama aturan ketat waktu dan suhu untuk makanan tertentu juga regulasi pengawasan dari pemerintah suka kadang kebalik- balik departemennya. Untungnya, saya dapet presentasi dan review siangnya barengan Chef dan setelah dijelasin logika dari beberapa aturan dan regulasinya, saya ngingetnya jadi lebih gampang. Dua jam review dan break 45 menit, jam 4 sore saya ambil tesnya online.

Saya didampingin sama satu Chef Jack yang baru saya temuin hari itu. Beliau yang jadi pengawas ujian saya. Jadi meski pun ujiannya online, untuk buka soal ujiannya, saya perlu kode proktor alias pengawas ini untuk mastiin bahwa saya diawasin selama ujian. Saya kerjain 90 soal kurang lebih 45 menit–soalnya itu soal cuma ditampilin satu tiap halamannya, ditambah lagi pas mau review soal harus di klik satu per satu. Karena pengen ngecek jadi pas selesai 90 soal, saya balik lagi review semua jawaban dan diklik sampai nyampe ke soal pertama dan untuk submit soal, ternyata saya harus klik tombol next sampai ada di soal terakhir.

Saya bisa bilang ini kualitas soalnya bagus. Meski pilihan ganda, tapi soalnya banyak yang menjebak dan bukan sekadar hapalan tapi terapan. Kalau misal teorinya kita harus masak makanan siap saji sampai 135 derajat, dia bakal kasih soal dengan nama makanan untuk juga nguji apakah kita tahu jenis makanan tertentu masuk kategori mana selain nguji tentang pengetahuan suhu masaknya. Asik asik njelimet. Dan setelah semua itu, saya lulus sodara sodara. Senangnya alhamdulillah.

Jadi kelas kuliner ini kayanya awal petualangan baru saya di dunia kuliner karena beralih tugas dari awalnya sekadar orang yang cicip hasil akhir dari dunia kuliner tapi sekarang beneran jadi orang di balik dunia kuliner dan saksi keruwetan proses didalam sebuah piring untuk akhirnya disajiin di depan kita. Banyak banget yang saya pelajarin dan ini langkah untuk keluar dari zona nyaman. Menakutkan tapi menjanjikan.

Kelas Kuliner H4: Salad dan Keripik

img_9231.jpg

Salad itu makanan yang susah banget saya konsumsi karena dulu saya cuman tahu salad itu artinya daun mentah yang dikasih minyak. Apa enaknya coba. Eh tapi di kelas kuliner ini jadi ngerti bahwa salad itu bukan apa yang awalnya Eca pikirin dan akhirnya bisa bikin salad enak dan makan daun mentah enak untuk pertama kalinya. Dari kelas kuliner hari terakhir ini juga Eca dikasih cara bikin keripik kentang rumahan yang rasanya seriusan lebih enak dari yang pabrikan–cuman ga renyah selama yang dikasih aditif sih emang. Berkat itu pula, Gentra nyobain makan gorengan untuk pertama kalinya dan dia jatuh cinta. Hehehe

Kelas kuliner sesi lab dapur ini harusnya berlangsung 5 hari, tapi satu harinya dikosongin dan hari keempat ini jadi hari terakhir. Sedih sedih seneng. Sedih soalnya harus berpisah dari dapur dan segala peralatan dan bahan makanan kualitas tingginya. Seneng akhirnya bisa makan siang sama Gentra lagi(karena selama lab ini saya makan siangnya jam 4/5 biasanya, meski selama lab nyicip- nyicip makanan kan belum makan ya kalau ga makan nasi). Pas bisa nyampe lokasi lebih cepet, akhirnya cepet ganti baju dan..poto poto. Selama ini gak sempet lah foto atau swafoto selama kegiatan karena jadwalnya padat banget dan gak mungkin sambil main hape juga. Abis minta ijin Chef, saya akhirnya foto- fotoin semua sudut- sudut lab dapur dan tempat kuliahnya plus sempet juga swafoto bareng Chef dan nyuri- nyuri swafoto sebadan di kamar mandi :p

Setelah semuanya dapet, temen aku dateng, kita mulai. Review materi selama ini selesai, Chef jelasin tentang sejarah restoran dan posisi chef. Katanya, dulu peran Chef dimulai dari orang- orang kaya yang perlu naik kapal pesiar dan perlu orang- orang untuk ngurusin makanan, sedangkan di masyarakat menengah ke bawah, posisi ini berawal dari keberadaan motel- motel kecil yang nyediain makanan buat para pelancong yang jalan kaki atau naik kuda. Setelah adanya kegiatan memasak besar- besaran yang jadi cikal bakal restoran, kemudian dikenal adanya istila Garde Manger. Istilah ini ngerujuk ke usaha orang untuk ngejaga semua bahan makanan dan mengolah semua bahan makanan biar bisa dipake dan gak kebuang. Tentu peran ini penting banget karena jaman dulu ga ada kulkas dan gak pedagang eceran. Sekarang kita bisa beli bahan makanan diecer sesuai kebutuhan dan kalau beli kebanyakan pun tinggal simpan di kulkas dan dipake lagi beberapa hari kemudian. Jaman dulu, kalau mau beli ya harus beli utuh misalkan butuh daging sapi ya harus beli satu ekor sapinya dan setiap bagiannya harus diurus biar gak sia- sia. Jadinya, Garde Manger inilah yang harus ngelakuin banyak hal untuk mastiin bahwa semua bahan makanan bisa dimanfaatkan.

Di jaman sekarang, posisi Garde Manger ini sedikit ngalamin pergeseran. Garde Manger kini lebih mengacu sama posisi yang bertanggung jawab untuk mengelola bahan makanan, bikin produk olahan daging yang artisan, dan nyiapin salad. Setelah penjelasan selesai, akhirnya kita berkutat di dapur untuk berusaha bikin salad dressing dari berbagai bahan yang ada dan nata semua bahan salad di piring. Selain salad, kita juga dikasih keahlian goreng menggoreng dengan bikin kentang goreng tradisional dan keripik kentang rumahan. Asli itu cuma kentang dan garem plus bubuk bawang tapi rasanya enak. Sayang gak sempet difoto.

Di akhir kelas, kita dikasih satu set pisau standar gitu isinya tiga buah pisau: satu pisau besar yang biasa kita pakai buat segala macem, dan dua lagi pisau untuk keperluan potongan khusus. Pisaunya juga dilengkapin sama semacam kantong yang bisa dibawa kemana mana. Pertama kali pakai itu, kuku kegores. Meski awalnya takut karena kayaknya pisau tajam lebih bahaya, tapi Chef nerangin justru sebaliknya. Pisau tajam lebih aman karena pas motong, kita cuma butuh gliding pisaunya aja gausah ditekan atau pakai tenaga jadinya kalo kena kulit ga akan langsung kepotong atau terluka parah karena kalau pakainya bener, si pisau langsung berhenti di atas kulit karena minimnya tekanan yang kita kasih. Teknik megang bahan yang bakal dipotong juga ngaruh banget untuk meminimalisir bahaya juga. Efek sampingnya, setelah tiga hari pakai pisau baru ini, dunia saya berubah lebih indah. Masak relatif lebih cepet karena saya motong lebih efisien caranya, hemat waktu dan tenaga. Masih perlu banyak latihan untuk kecepatannya setara Chef tapi dikit dikit lama lama jadi bukit kawan.

Pokoknya saya belajar banyak banget selama 4 hari kelas kuliner sesi lab dapur ini. Kelas ini bukan cuma ngajarin tentang nyuci tangan, nyuci piring, potong- potong, atau bikin resep aja, tapi kelas ini udah buka mata saya tentang dunia kuliner Amerika lebih dalam lagi–tentang sejarah, budaya, pola pikir dan cara pandang orang- orang di balik panggung kuliner Amerika ini. Masih ada dua hari lagi untuk menyelam lebih dalam dan melihat lebih lekat cakrawala baru ini.