My Lost Self

This is the very first picture of me alone since I don’t know when. And this my friend, I couldn’t believe to be ever happened on me. I realized that I don’t have a picture of me alone when I wanted to decide the display picture of my vlog and I suddenly felt shivers on my vein. At that time, I realized that Once Gentra was born, I feel like my world, which once rotates around myself, turning its axis. My world has been rotating around Gentra ever since.

There was the time that I didn’t think I could stand this world without him. After so much time spent with him alone, it was natural that I was like living in a bubble with me and Gentra inside–I didn’t want to go out,to talk to people,to be simply social. I just want to take care of him inside our tiny bubble and leave human civilization. I feel I lost myself because everything I did was   for him and him only. I ate not for me to enjoy but for him to be healthy as he nursed, I slept at certain time not because I wanted to but because that was the only time Gentra allowed me to, I was happy not because something good happened to me but it happened to him and so on and so forth. I lost myself in the middle of raising the other self.

Then, he’s growing and so am I. He’s growing to be little human and I am growing to be myself all over again. He’s discovering this world day by day and I am rediscovering a bit of myself at the same time. I am learning to be me as Gentra is learning to be him.

Gentra used to be very attached and quite fussy as a baby. By time, he’s getting calmer and it allowed me to have some time to watch my favorite reality show or read interesting books. That’s a very small step yet a big turning point on my rediscovery. I rediscovered that I could enjoy things I used to love even in between nursing my baby. I rediscovered how to be me. Looking back, I feel awesome that now Gentra has had his independent play time. He can stay at his play corner for a while when I need to do something else. It’s been a long way.

Gentra is turning one soon and I should be too. I should be able to be that oneself again. It doesn’t mean I want to separate myself from him. It is impossible to separate your literal soulmate-that soul you shared your breath for 9 months with. The thing is, I need to enjoy myself as Gentra enjoys his. I need to cherish my being by doing something for myself     too so that Gentra also respects his being. I need to do things I love, to appreciate things I respect so that Gentra will too. Eventually, everything is still about him but this time, I will not allow myself to get lost.

Advertisements

Saya Takut Berita.

“Di media sosial, mudah sekali kita lihat umpatan, makian,ancaman. Kita kehilangan etika pada sesama manusia karena kita mungkin tidak mengganggap kata kata yang kita tidak sukai di layar ponsel kita sebenarnya dibuat oleh manusia lainnya-yang harus dihargai dan dipahami.”

Berita sekarang bikin bulu kuduk berdiri. Sekali buka timeline sosial media selama 10 menit aja, saya udah dengar 3 berita menyedihkan. Kematian perempuan pasca beribadah, cerita para pencari suaka dari negara konflik,dan ancaman via sosial media yang diali atlet luar negeri. Ini ada apa sebenernya?

Yang harusnya jadi pertanyaan mungkin ke mana aja kita selama ini? Semua kejadian mengerikan ini mungkin dari dulu udah ada. Kejahatan berdasar agama atau ras, konflik peperangan, dan kebodohan manusia bumi. Masalahnya, baru sekarang ini kita punya akses terhadap semua hal itu. 

Dulu berita itu cuman makanan orang tua tiap pagi, tengah hari,dan malam menjelang tidur. Para orang tua itu juga udah berkomentar dari dulu. Ada yang berkomentar biasa dan mengumpat. Tapi semua komentar itu gak terekam secara audio atau pun visual. Beda dengan sekarang. Semua orang, hanya karena baca beberapa judul berita dan lihat video beberapa detik, mereka merekam pikiran mereka untuk bebas dinikmati orang kapan aja. Gak peduli latar belakang, mood saat itu, orang lain di belakang layar lain melihat dan menimpali. Jadilah debat kusir.

Ini bermasalah. Dulu, saat kita ngobrol di depan rumah untuk bicara berita, kita tahu kondisi riil orang yang kita ajak berbicara. Kita melihat mereka seperti manusia yang kita hargai dan hormati dengan menjaga kata kata serta berusaha memahami kondisi pada saat itu. Jika dia mengumpat misalnya,kita tidak akan buru buru menilai dia kasar karena kita tahu dia baru kehilangan uang THR misalnya. Ini yang hilang saat kita bermedia sosial. Di media sosial, mudah sekali kita lihat umpatan, makian,ancaman. Kita kehilangan etika pada sesama manusia karena kita mungkin tidak mengganggap kata kata yang kita tidak sukai di layar ponsel kita sebenarnya dibuat oleh manusia lainnya-yang harus dihargai dan dipahami.

Ini yang membuat kemudian orang seakan bebas mencaci,mengancam. Lalu kesalahpahaman terjadi di dunia maya dan berimbas ke dunia nyata. Efek domino yang menakutkan. Pokonya,saya takut sama berita.

Jatuh Cinta


Saya orang yang gak percaya sama cinta pada pandangan pertama. Saya orang yang percaya bahwa cinta sama kaya hal lainnya,berproses dan butuh usaha. Mungkin untuk yang percaya cinta pada pandangan pertama cuman sedang mengalami proses yang instan aja,tapi bukan berarti gak ada proses sama sekali. Jadi awalnya saya gak percaya juga bahwa kamu bisa jatuh cinta berkali kali tanpa melakukan sesuatu, entah kamu atau lawanmu. Tapi semuanya berubah saat negara api menyerang. Ga deng. Semua berubah saat satu lelaki muncul di hidup saya. Like literally coming out of me. Namanya Gentra. Gentra membuat saya jatuh cinta tanpa usaha.

Gentra buat saya jatuh cinta tiap harinya. Dan itu cuman lewat pandangan aja! Cukup dengan cara dia memandang, saya kaya baru aja jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta yang membuat kamu senyum sendiri kaya orang gila kalau bayangin orangnya. Cinta yang berbeda dari yang saya rasakan sama suami saya misalnya, karena kalau sama dia, cinta saya dewasa. Cinta saya untuk suami harus dewasa karena kami dua orang dewasa yang tetap mempunyai dua hidup yang berbeda, jadi banyak yang harus dilakulan untuk bisa berjuang bersama untuk saling mengerti dan terus mencinta. Sama Gentra, cinta saya tanpa usaha. Sama Gentra, cinta saya egois dan kekanakan karena dia tidak bisa dipaksa mengakui bahwa si anak ini akan memiliki dunianya sendiri kelak. Sama Gentra, saya jatuh cinta tiap harinya.

Tentang Vlog ‘Ibu Santai’

#menulisrandom2017

Akhirnya setelah beberapa kali bulan purnama,vlog pertama saya bisa diunggah juga. Karena dasarnya saya orang gaptek jadi butuh waktu lama banget buat nyiapin prentilan buka kanal youtube doang. Dari mulai ngumpulin video yang bertebaran di berbagai piranti dan nyari tahu sistem segala macemnya ngabisin waktu sebulan. Terus seminggu terakhirnya fokus ke editing. Dan hasilnya ya begitu aja. Tapi lumayan lah. Sekarang begitu Gentra bisa ditinggal, lanjut editing video kedua. Kayanya saya mau ngebagi tentang salah satu kegiatan musim panas di sini. Tonton yak!

Bye bye Mang Timo!

#menulisrandom2017

What’s so hard about parting is being in a state of not knowing when to meet next time–or even worse,never. Especially when you’ve just been used to the person being around. And that’s what I feel about Timo. I’ve just known him for a while yet he’s already our family’s dear friend. Gentra likes him too–especially his glasses and slippers. Yesterday,when we needed to say goodbye to Timo, Gentra was calm until he left. Gentra didn’t want me to close the porch door and gave tantrum for a bit when I did so. 

I don’t know much about him–at least not as much as my husband. Yet, I’m happy that I got to know him. He’s friendly and cooks well! I’m sad that he needs to leave but glad that he’ll have his home back. Wish you best luck,Mang Timo. We’ll miss you. Hope to see you in Germany.

Love,

Sandya, Resa, Gentra

Si Romantis

#menulisrandom2017

Saya dan suami kayanya kurang tepat dibilang pasangan romantis. Pernah sekali waktu saya bilang I love you dan pas nengok eh orangnya lagi ngupil. Atau pernah juga sambil pelukan terus saya kentut. Dan bau. Ambyar sudah. Beda sama anak kami. Gak tau kenapa ini anak romantis banget. Tiap pagi kalau belum cium kami, dia belum mau turun dari tempat tidur. Terus momen foto ini pas banget nunjukin gimana saya ngerasa kalau si anak ini menatap sayang sama ibunya. Padahal sih entah juga apa yang dipikirin. Bisa jadi dia cuman tertarik ama jerawat yang nyembul nyembul di balik pipi ibunya. Tapi siapa peduli? Yang penting saya merasa diromantisi.